Franchise SPBU Pertamina

SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum) merupakan prasarana umum yang disediakan oleh PT. Pertamina untuk masyarakat luas guna memenuhi kebutuhan bahan bakar. Pada umumnya SPBU menjual bahan bakar sejenis premium, solar, pertamax dan pertamax plus.

Terhitung sejak tahun 2003, bentuk usaha PERTAMINA berubah menjadi persero. Untuk mengembangkan lingkup usahanya, PT. Pertamina membuka kesempatan bagi pengusaha untuk bekerja sama dalam bentuk franchise SPBU. Untuk aplikasi yang disetujui, Pertamina akan menyusun business plan, yang baru dianggap layak jika diperkirakan bisa menjual minimal 15 ton (15.000 liter per hari). Kontrak kerja sama berlaku selama 15 tahun dan akan dievaluasi setiap lima tahun sekali. Pertamina menetapkan margin Rp.172/liter untuk bensin dan Rp.215/liter untuk solar. Data Pertamina menunjukkan, rata-rata SPBU di Indonesia bisa menjual 30 ton (30.000 liter) BBM per hari. Untuk kota-kota besar seperti Jakarta, penjualannya mencapai 50 ton per hari.

Bentuk Kerjasama yang di Tawarkan

  1. DODO (Dealer Owned Dealer Operated) SPBU DODO PT. Pertamina adalah SPBU milik swasta, baik lahan, investasi, maupun operasionalnya. Skema DODO hanya akan diberlakukan kepada calon SPBU tipe D dan E yang ditentukan berdasarkan hasil verifikasi awal.
  2. CODO (Company Owned Dealer OperatedSPBU CODO PT. Pertamina merupakan SPBU sebagai bentuk kerjasama antara PT. Pertamina dengan pihak-pihak tertentu. Antara lain kerjasama pemanfaatan lahan milik perusahaan ataupun individu untuk di bangun SPBU PT. Pertamina. Skema CODO hanya akan diberikan kepada calon SPBU tipe A, B, dan C yang ditentukan berdasarkan hasil verifikasi awal.

Pertamina Way & Pasti Pas

  • Pertamina Way adalah program yang diluncurkan oleh PT. Pertamina dengan penerapan standar pelayanan yang terdiri dari 5 (lima) elemen, yaitu pelayanan staff yang terlatih dan bermotivasi, jaminan kualitas dan kuantitas, fasilitas dan peralatan yang terawat dengan baik, memiliki format fisik yang konsisten, dan penawaran produk dan pelayanan bernilai tambah dengan operator yang selalu menerapkan 3S (Salam, Senyum, Sapa).
  • Pasti Pas adalah SPBU yang telah mendapatkan sertifikat Pasti Pas! dari auditor independen dengan jaminan pelayanan terbaik yang memenuhi standar kelas dunia. Konsumen akan mendapatkan kualitas dan kuantitas BBM yang terjamin, pelayanan yang ramah, serta fasilitas yang nyaman. SPBU Pertamina PASTI PAS! hanya diberikan kepada SPBU yang telah mendapatkan dan dapat mempertahankan audit sertifikasi oleh auditor internasional independen. Audit ini mencakup standar pelayanan, jaminan kualitas dan kuantitas, kondisi peralatan dan fasilitas, keselarasan format fasilitas, penawaran produk dan pelayanan tambahan. Setelah mendapatkan sertifikat PASTI PAS!, SPBU akan tetap diaudit secara rutin. Jika tidak lolos, SPBU dapat kehilangan predikatnya sebagai SPBU PASTI PAS! Seluruh proses sertifikasi dilakukan secara independen oleh Bureau Veritas, institusi auditor independen internasional yang memiliki pengalaman Internasional untuk melakukan audit pelayanan SPBU.

Sarana dan Prasarana Standar yang Wajib dimiliki Oleh Setiap SPBU

  • Sarana pemadam kebakaran:
    • Sesuai dengan pedoman PT. Pertamina.
  • Sarana lindungan lingkungan:
    • Instalasi pengolahan limbah.
    • Instalasi oil catcher dan well catcher:
      • Saluran yang digunakan untuk mengalirkan minyak yang tercecer di area SPBU kedalam tempat penampungan.
    • Instalasi sumur pantau:
      • Sumur pantau dibutuhkan untuk memantau tingkat polusi terhadap air tanah di sekitar bangunan SPBU yang disebabkan oleh kegiatan usaha SPBU.
    • Saluran bangunan/drainase sesuai dengan pedoman PT. Pertamina.
  • Sistem Keamanan:
    • Memiliki pipa ventilasi tangki pendam;
    • Memiliki ground point/strip tahan karat;
    • Memiliki dinding pembatas/pagar pengaman;
    • Terdapat rambu-rambu tanda peringatan.
  • Sistem Pencahayaan:
    • SPBU memiliki lampu penerangan yang menerangi seluruh area dan jalur pengisian BBM;
    • Papan penunjuk SPBU sebaiknya berlampu agar keberadaan SPBU mudah dilihat oleh pengendara.
  • Peralatan dan kelengkapan filling BBM sesuai dengan standar PT. Pertamina berupa:
    • Tangki pendam;
    • Pompa;
    • Pulau pompa.
  • Duiker, dibutuhkan sebagai saluran air umum di depan bangunan SPBU
  • Sensor api dan perangkat Pemadam kebakaran
  • Lambang PT. Pertamina
  • Generator
  • Racun Api
  • Fasilitas umum:
    • Toilet;
    • Mushola;
    • Lahan parkir.
  • Instalasi listrik dan air yang memadai
  • Rambu-rambu standar PT. Pertamina:
    • Dilarang merokok;
    • Dilarang menggunakan telepon seluler;
    • Jagalah kebersihan;
    • Tata cara penggunaan alat pemadam kebakaran.

Pelaksanaan Operasional SPBU

  • Pelaksanaan operasional SPBU harus sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedure) PT. Pertamina.
  • Perekrutan dan pengadaan karyawan adalah tanggung jawab pemohon, dan para pekerja diwajibkan bekerja sesuai dengan etika kerja standar PT. Pertamina.

Bangunan SPBU Berdasarkan Standar PT. Pertamina

  • Desain bangunan harus disesuaikan dengan karakter lingkungan sekitar (contoh: letak pintu masuk, pintu keluar, dan lain-lain);
  • Elemen bangunan yang adaptif terhadap iklim dan lingkungan (sirip penangkal sinar matahari, jendela yang menjorok kedalam, dan penggunaan material dan tekstur yang tepat);
  • Desain bangunan SPBU harus disesuaikan dengan bangunan di lingkungan sekitar yang dominan;
  • Arsitektur bangunan sarana pendukung harus terintegrasi dengan bangunan utama;
  • Seluruh fasade bangunan harus mengekspresikan detail dan karakter arsitektur yang konsisten;
  • Variasi bentuk dan garis atap yang menarik;
  • Bangunan harus adaptif terhadap panas matahari dan pantulan sinar matahari dengan merancang sirip penangkal sinar matahari dan jalur pejalan kaki/ trotoar yang tertutup dengan atap;
  • Bangunan dibagi-bagi menjadi komponen yang berskala lebih kecil untuk menghindari bentuk massa yang terlalu besar;
  • Panduan untuk kanopi adalah sebagai berikut:
    • Integrasi antara kanopi tempat pompa bensin dan bangunan diperbolehkan;
    • Ketinggian ambang kanopi dihitung dari titik terendah kanopi tidak lebih dari 13’9’’. Ketinggian keseluruhan kanopi tidak lebih dari 17’;
    • Ceiling kanopi tidak harus menggunakan bahan yang bertekstur atau flat, tidak diperbolehkan menggunakan material yang mengkilat atau bisa memantulkan cahaya;
    • Tidak diperbolehkan menggunakan lampu tabung pada warna logo perusahaan.
  • Panduan untuk pump island adalah sebagai berikut:
    • Pump island ini terdiri dari fuel dispenser, refuse container, alat pembayaran otomatis, bollardpengaman, dan peralatan lainnya;
    • Desain pump island harus terintergrasi dengan struktur lainnya dalam lokasi, yaitu dengan menggunakan warna, material dan detail arsitektur yang harmonis
    • Minimalisasi warna dari komponen-komponen pump island, termasuk dispenser, bollard dan lain-lain.
  • Sirkulasi/jalur masuk dan keluar:
    • Jalan keluar masuk mudah untuk berbelok ke tempat pompa dan ke tempat antrian dekat pompa, mudah pula untuk berbelok pada saat keluar dari tempat pompa tanpa terhalang apa-apa dan jarak pandang yang baik bagi pengemudi pada saat kembali memasuki jalan raya;
    • Pintu masuk dan keluar dari SPBU tidak boleh saling bersilangan;
    • Jumlah lajur masuk minimum 2 (dua) lajur;
    • Lajur keluar minimum 3 (tiga) lajur atau sama dengan lajur pengisian BBM;
    • Lebar pintu masuk dan keluar minimal 6 m.

Persyaratan Umum Perijinan SPBU

Di bawah ini adalah persyaratan umum perijinan SPBU yang harus dipebuhi calon mitra setelah calon mitra dinyatakan lolos proses verifikasi seleksi online Pertamina.

Persyaratan Permohonan Ijin Baru

  • Persyaratan permohonan ijin SPBU sebagai berikut:
    1. Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) pemilik/pimpinan badan usaha;
    2. Biodata perusahaan/akta pendirian perusahaan (untuk badan usaha);
    3. Lay out bangunan SPBU dan konfigurasi SPBU yang akan dibangun;
    4. Peta lokasi skala 1:10.000 atau lebih besar, dan peta topografi/rupa bumi skala 1:25.000 yang memperlihatkan titik lokasi rencana pendirian SPBU;
    5. Data kapasitas penyimpanan dan perkiraan penyaluran BBM;
    6. Data inventarisasi perlatan dan fasilitas yang dipergunakan;
    7. Rekomendasai dari penyedia BBM yang ditunjuk/diakui oleh Pemerintah dilampiri dengan salinan/copy kontrak;
    8. Foto copy ijin peruntukan penggunaan tanah (IPPT) sesuai dengan skala kegiatan;
    9. Foto copy ijin gangguan (HO);
    10. Foto copy Ijin Mendirikan Bangunan (IMB);
    11. Bukti pengesahan meter pompa SPBU dari instansi yang berwenang;
    12. Foto copy ijin timbun tangki dari instansi yang berwenang;
    13. Dokumen pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan skala kegiatan.
    14. Fotokopi surat izin pembangunan SPBU dari Jasamarga (khusus bagi pendaftar yang memiliki lokasi di jalan tol).
    15. Nama Kelurahan di sertifikat tanah harus sesuai dengan lokasi pendirian SPBU yang didaftarkan.

Hasil verifikasi kemudian menjadi bahan rekomendasi untuk persetujuan pendirian SPBU/SPPBE

Persyaratan Lokasi SPBU

Dalam pembangunan sebuah SPBU, luas minimal lahan tergantung dari letak lahan yang akan dibangun menjadi sebuah SPBU. Apabila lahan yang akan dibangun SPBU terletak dijalan besar/utama, maka luas lahan yang harus dimiliki minimal 2500 m². Sedangkan untuk akses jalan lokal minimal 700 m². Jarak antar SPBU minimal 1 KM.

SPBU terdiri dari 5 tipe diantaranya adalah tipe A.B.C.D dan E. dimana klasifikasi SPBU tersebut adalah sebagai berikut :

KOMPONEN TIPE A TIPE B TIPE C TIPE D TIPE E
Minimal Ukuran Lahan (m²) 2500 1600 1225 900 700
Min Lebar Muka Jalan 50 40 35 30 20
Selang Min. 26 20 – 25 16 – 20 10 – 16 Max 10
Kapasitas Tangki Min. 160 kl Min. 140 kl Min. 100 kl Min. 80 kl Min. 60 kl

Initial Fee

Biaya perizinan yang dikeluarkan oleh mitra pada dasarnya adalah biaya atas hak intelektual yang dikeluarkan oleh PT. Pertamina untuk perancangan desain SPBU, biaya pemakaian logo, produk PT. Pertamina, dan biaya pendaftaran pola baru. Biaya tersebut merupakan biaya resmi PT. Pertamina. Mitra tidak dibebankan biaya lain selain biaya tersebut. Setiap aplikasi yang disetujui dikenakan biaya Initial Fee yang besarnya diatur sebagai berikut:

TYPE SPBU PERKIRAAN VOLUME PENJUALAN BESARNYA INITIAL FEE
SPBU TYPE A > 35 Kilo Liter Rp. 800.000.000,00
SPBU TYPE B > 25 Kilo Liter dan <= 35 Kilo Liter Rp. 650.000.000,00
SPBU TYPE C > 20 Kilo Liter dan <= 25 Kilo Liter Rp. 500.000.000,00
SPBU TYPE D > 15 Kilo Liter dan <= 20 Kilo Liter Rp. 350.000.000,00
SPBU TYPE E <= 15 Kilo Liter Rp. 250.000.000,00

Selain ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Pertamina tersebut, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan kita sebagai dealer.

1. Izin. Selain izin dari Pertamina, izin dari lingkungan setempat juga harus dimiliki, mulai dari RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan. Biasanya permohonan izin memerlukan waktu bulanan dan terkadang disertai dengan “amplop”.

2. Pendirian bangunan. Pembangunan SPBU harus menggunakan standar dari Pertamina dan kontraktor yang digunakan harus merupakan hasil rekomendasi Pertamina. Kita mengontrol penggunaan raw material saja.

3. Uang (berdasarkan estimasi dari sumber di sebuah forum, modal awal yang dibutuhkan sekitar 20-25 miliar untuk startup, bangunan, izin, peralatan, n sekitar 200-300 juta untuk supply BBM dan operasional tiap bulannya. Modal tersebut belum termasuk lahan (standarisasi luas lahan dapat dilihat di atas).

*Jika mau dihitung secara kasar, anggap saja rata-rata 30.000 liter bensin per hari (berdasarkan perhitungan rata-rata Pertamina) –> (omzet: 30.000 x Rp.172 = Rp.5.160.000  / Rp.154.800.000 per bulan). Dipotong biaya gaji, ATK, operasional (listrik, air, telepon), maintenance, dsb. Anggaplah, laba bersih yang diperoleh adalah 100 juta/bulan. Menarik? Bisa ya, bisa tidak.. Namun, perlu diingat juga nilai properti yang kita miliki akan terus naik tiap tahunnya. Bagaimana jika tidak memiliki modal sebanyak itu? Apakah bank mau meminjamkan sekian puluh miliar untuk kita? Tentu tidak semudah itu. Analogi sederhananya, SPBU yang kita miliki ibarat seekor ayam petelur. Penghasilan yang diperoleh dari SPBU ibarat telur. Silakan Anda menghitung ROI dari SPBU tersebut, apakah termasuk layak atau tidak. Pada dasarnya investasi untuk operasional dan pembangunan SPBU di mana-mana pasti sama karena Pertamina sudah punya ketentuan sendiri. Yang membedakan adalah lokasi dan harga tanah dari masing-masing SPBU. Tentunya beda jika membeli lahan di Sudirman dan Daan Mogot.

PERHITUNGAN GAIN/LOSS

Gain/Loss adalah selisih stok akhir real BBM dibandingkan dengan stok akhir teoritis dalam periode 1 bulan pembukuan. Nilai yang diperoleh dari perhitungan selisih tersebut mungkin + (Gain) atau – (Loss).

Rumusnya adalah :

Gain/Loss = (stok real akhir – stok teoritis)

Stok akhir real diperoleh dengan melakukan pengukuran pada setiap tangki pendam BBM, untuk mengetahui sisa stok yang ada. Stok akhir teoritis diperoleh dari stok akhir real bulan sebelumnya ditambah dengan jumlah penerimaan BBM dari Pembelian kemudian dikurangi penjualan. Secara matematis stok akhir teoritis dapat dituliskan sebagai berikut:

Stok akhir teoritis = (Stok akhir real bulan sebelumnya + Penerimaan BBM) – Penjualan

Cara yang umum digunakan untuk menilai besar/kecilnya gain/loss ini adalah ditentukan dengan nilai persen (%). Persentase ini diperoleh dari pembandingan nilai gain/loss dalam liter terhadap jumlah penjualan dalam liter kemudian dikalikan 100. Rumusnya adalah:

Gain/Loss = (Gain/Loss / Penjualan) x 100

Toleransi yang dianjurkan untuk gain/loss adalah 0,5%. Jika gain/loss SPBU kita melebihi dari nilai di atas, maka dianggap ‘tidak normal’.

Ilustrasi perhitungannya adalah sebagai berikut, jika diketahui:

Stok akhir real bulan sblmnya = 8.000 liter

Jumlah penerimaan = 32.000 liter

Jumlah penjualan = 33.000 liter

Stok akhir real bulan ini = 6.800 liter

Kita hitung terlebih dahulu Stok akhir teoritis dengan rumus

Stok akhir teoritis = (Stok akhir real bulan sebelumnya + Penerimaan BBM) – Penjualan

Stok akhir teoritis = (8.000 + 32.000) – 33.000

Stok akhir teoritis = 7.000 liter

Untuk mengetahui jumlah gain/loss dalam liter

Gain/Loss = (stok real akhir – stok teoritis)

Gain/Loss = 6.800 – 7.000

Gain/Loss = -200 liter (dalam hal ini berarti Loss yang diperoleh)

Untuk mengetahui persentasinya

Gain/Loss = (Gain/Loss : Penjualan) x 100

Gain/Loss = (-200 : 33.000) x 100

Gain/Loss = -0.60 % (melebihi batas toleransi -0.5%)

Mengenal alat ukur kuantitas BBM mobil tangki sebelum masuk ke tangki pendam:

Bagi seorang pekerja di SPBU, bau bensin dan bau solar sudah menjadi santapan tiap hari, terutama pada saat proses bongkar BBM (lossing). Biasanya, sebelum lossing, petugas kita memasang peralatan lossing seperti selang 4″, leher angsa, mulut babi, dan membuka kunci pada setiap dombak yang akan diisi.

Untuk mengukur kuantitas BBM dari mobil tangki, yang ada 4 macam alat yang biasa digunakan, yaitu:

1. Salib ukur

Salib ukur ini berbentuk 2 ‘penggaris’ pada umumnya dimana tertera skala (biasanya dalam cm) pada masing-masing penggaris. Hanya saja salah satu dari ‘penggaris’ itu mempunyai bentuk seperti sepatu. Untuk dapat menggunakan salib ukur, kita harus menyilangkan kedua penggaris pada dudukan yang telah disediakan sehingga menyerupai salib.

Metode yang digunakan jika kita menggunakan salib ukur adalah dengan mengukur jarak t1 terhadap permukaan minyak. t1 adalah jarak dari bibir lubang tangki (manhole) terhadap ijk bout. Ijk bout merupakan penunjuk dimana permukaan minyak seharusnya berada. Posisi Ijk bout ini ditentukan oleh Dinas Metrologi pada saat dilakukannya tera tangki, dan untuk mencegah agar posisi ijk bout tidak berubah naik/turun, Dinas Metrologi akan memasangkan segel timah pada ijk bout tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan salib ukur adalah:

- mengetahui nilai t1 tangki mobil dari buku TUM (Tangki Ukur Mobil) yang dikeluarkan oleh Dinas Metrologi

- mengetahui nilai kepekaan tangki mobil dari buku TUM (Tangki Ukur Mobil) yang dikeluarkan oleh Dinas Metrologi

- mengetahui tebal tutup tangki (dilakukan dengan melakukan pengukuran sendiri secara manual)

- menggunakan waterpass untuk mendapatkan posisi datar pada tutup tangki pada saat pengukuran.

2. Tongkat ukur

Tongkat ukur ini mirip dengan tongkat yang digunakan untuk dipping, hanya saja ukurannya lebih pendek, karena disesuaikan dengan tinggi tangki mobil pada umumnya. Pada bagian tongkat tertera skala dalam cm dan terdapat sebuah klem sebagai penunjuk dimana posisi minyak seharusnya berada.

Metode yang digunakan jika kita menggunakan tongkat ukur adalah dengan mengukur jarak t2 terhadap permukaan minyak.

t2 adalah jarak dari dasar tangki terhadap ijk bout. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan tongkat ukur adalah:

- mengetahui nilai t2 tangki mobil dari buku TUM

- mengetahui nilai kepekaan tangki mobil dari buku TUM

- memastikan dasar tangki tidak penyok, atau tidak terdapat tumpukan karat, yang akan mengurangi keakuratan hasil pengukuran

- memastikan posisi tongkat ukur agar berada tegak lurus terhadap dasar tangki, karena ini juga akan mempengaruhi hasil pengukuran.

3. Flowmeter

Flowmeter adalah alat yang digunakan untuk mengetahui nilai kuantitas BBM pada proses lossing dengan cara membaca arus yang melalui corong pada flowmeter tersebut.

Menggunakan flowmeter lebih gampang dan tidak memerlukan perhitungan, seperti dua methode yang telah dituliskan di atas. Kita hanya harus memasangkan flowmeter pada kran tangki dan membaca hasilnya pada saat proses lossing selesai. Namun, menurut keterangan yang saya dengar dari teman-teman yang menggunakan flowmeter (saya sendiri belum pernah menggunakan alat ini), jika dalam 1 kompatemen terdapat 8.000 liter BBM, maka pada saat proses lossing selesai (sisa BBM mencapai ratusan liter), flowmeter sudah tidak bisa lagi membaca arus BBM yang dikeluarkan. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh faktor gravitasi.

4. ATG (Automatic Tank Gauge)

Yang ini lebih canggih lagi. ATG adalah perangkat terintegrasi, di dalamnya terdapat alat pengukur suhu, pengukur permukaan minyak, dan juga (kalau tidak salah) pengukur tekanan. Semua alat-alat tersebut ditanam di dalam tangki pendam SPBU dan dibaca secara digital untuk kemudian hasilnya dikirim ke sebuah layar dan atau printer. ATG bisa memberikan data suhu, stok, dan pressure secara realtime.

Sebelum proses lossing, petugas hanya perlu mengeluarkan struk dari printer ATG yang mencatat posisi awal stok sebelum lossing. Pada saat proses lossing selesai, petugas kembali mengeluarkan struk dari printer ATG untuk mengetahui stok setelah lossing dan menghitung selisihnya untuk mengetahui berapa jumlah BBM yang masuk ke tangki pendam bersangkutan.

Semoga informasi ini dapat membantu teman-teman yang ingin mencari informasi atau memiliki bisnis SPBU.

*Untuk memulai usaha SPBU tersebut, Anda perlu lolos uji seleksi dari Pertamina. Prosedur seleksi dapat dilihat di SINI.

*Prosedur pengajuan online dapat dilihat di SINI.

Contoh daftar harga peralatan SPBU:

http://www.indowebster.web.id/entry.php?b=6214&bt=15105

http://i1215.photobucket.com/albums/cc511/sensenchan/Listharga-1.jpg

Milis SPBU Pertamina:

http://finance.groups.yahoo.com/group/spbu-pertamina/

Referensi:

spbu.pertamina.com. Diakses tanggal 29 November 2011.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3473616. Diakses tanggal 29 November 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s